Senin, 07 Juli 2014

PESAN NABI SAW UNTUK KITA SEMUA


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Hayati Pesan Nabi SAW : ..

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari r.a.; Rasulullah SAW bersabda maksudnya :

“Tiga hal aku bersumpah untuknya dan aku sampaikan satu pesanan kepadamu, maka hafalkanlah :

1) Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.

2) Seorang hamba yang dizalimi dan dia bersabar menanggungnya pasti kemuliaannya akan ditambah oleh Allah.

3) Dan seorang hamba yang membuka pintu meminta-minta pasti Allah akan membuka pintu kemiskinan untuknya.

Dan aku sampaikan satu pesanan kepadamu, maka hafalkanlah : dunia milik 4 kelompok manusia :

1) Seorang hamba yang dianugerahi Allah harta dan ilmu. Lalu dia bertakwa kepada Allah, melakukan silaturrahim serta mengetahui hak Allah di dalam hartanya. Ini adalah tingkatan paling baik.

2) Seorang hamba yang dianugerahi Allah ilmu tetapi tidak dianugerahi harta. Namun dia punyai niat tulus dan mengatakan, ‘Andai kata aku punya harta tentu aku akan beramal seperti fulan.’ Dan karena niatnya ini, pahala mereka berdua sama.

3) Seorang hamba yang dianugerahi Allah harta tetapi tidak dianugerahi ilmu. Dia memakai hartanya tanpa dasar ilmu, tidak bertakwa kepada Allah, tidak melakukan silaturrahim serta tidak mengetahui hak Allah dalam hartanya. Ini adalah tingkatan terburuk.

4) Serta seorang hamba yang tidak dianugerahi ilmu dan harta namun dia mengatakan, ‘Andai kata aku punya harta tentu aku akan beramal seperti amal fulan.’ Dan kerana niatnya, dosa mereka berdua sama.”

(Hadis Riwayat Tirmidzi dan Ahmad, Hadis Hasan Sahih)

Minggu, 22 Juni 2014

PETUNJUK AL-QURAN DALAM MEMILIH PEMIMPIN

Oleh: Agus Saputera
Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya sebagai sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai kepada artis.
Mereka berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.
Hakikat kepemimpinan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Menurut Shihab (2002) ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Hal senada dikemukakan oleh Hafidhuddin (2003). Menurutnya ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisaâ 4): 5, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaâ (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah: (1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah". Lihat Q. S. As-Sajdah (32): 24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut. (2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya. (3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Sifat-sifat pokok seorang pemimpin tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Al-Mubarak seperti dikutip Hafidhuddin (2002), yakni ada empat syarat untuk menjadi pemimpin: Pertama, memiliki aqidah yang benar (aqidah salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (`ilmun wasi`un). Ketiga, memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah). Keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur urusan-urusan duniawi.
Memilih pemimpin
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits.
Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah "cerminâ" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian".
Sikap rakyat terhadap pemimpin
Dalam proses pengangkatan seseorang sebagai pemimpin terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yaitu masyarakat. Karena yang memilih pemimpin adalah masyarakat. Konsekwensinya masyarakat harus mentaati pemimpin mereka, mencintai, menyenangi, atau sekurangnya tidak membenci. Sabda Rasulullah saw: "Barang siapa yang mengimami (memimpin) sekelompok manusia (walau) dalam sholat, sedangkan mereka tidak menyenanginya, maka sholatnya tidak melampaui kedua telinganya (tidak diterima Allah)".
Di lain pihak pemimpin dituntut untuk memahami kehendak dan memperhatikan penderitaan rakyat. Sebab dalam sejarahnya para rasul tidak diutus kecuali yang mampu memahami bahasa (kehendak) kaumnya serta mengerti (kesusahan) mereka. Lihat Q. S. Ibrahim (14): 4, "Kami tidak pernah mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya". dan Q. S. At-Taubah (9): 129, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat baginya penderitaanmu lagi sangat mengharapkan kebaikan bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada kaum mukmin.
Demikianlah Al-Quran dan Hadits menekankan bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi pemimpin. Sebab memilih pemimpin dengan baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan benar.(*)
Penulis adalah:
Staf Hukmas dan KUB 
Kanwil Kementerian Agama (Kemenag)
Prov. Riau

Sabtu, 07 Juni 2014

BERBAHAGIA ??

. Sayang ALLAH SWT. Nabi Muhammad SAW. Kedua Orangtua Sahabat dan Teman

Sayangi dan Cintailah apa yang ada di sekeliling kita...

karena merekalah salah satu pendukung/motivasi dalam kehidupan kita


. Bersyukur


Bersyukur terhadap apa yang Anda punya saat ini dalam hidup Anda. Karena dengan bersyukur, Anda akan bisa lebih menghargai hidup dan tentunya membuat Anda bahagia dalam menjalani hidup.

Bersyukur bahkan merupakan tindakan terkecil sekaligus terbesar yang bisa Anda lakukan untuk meraih kebahagiaan. Anda tidak perlu keluar rumah atau membeli barang mahal.


. Optimistis


Orang-orang sukses adalah orang-orang dengan sikap optimis. Dua orang yang sedang menghadapi musibah yang sama belum tentu mengalami akhir yang sama jika keduanya mempunyai sifat yang berbeda.

Orang dengan rasa optimistis yang lebih besar mempunyai kecenderungan untuk bangkit dari kegagalan lebih cepat. Kegagalan atau musibah akan dilihat lebih sebagai bahan pembelajaran untuk terus berkembang.


. Jangan terlalu banyak berpikir 


Bagaimana rasanya jika Anda dibandingkan dengan orang lain? Apakah rasanya menyenangkan selalu dibandingkan?

Tentu tidak. Terkadang manusia menjadi sangat keras terhadap dirinya sendiri dengan membanding-bandingkan. Masalahnya adalah, selalu akan ada orang yang lebih dari pada Anda. Selalu akan orang yang lebih muda, lebih ganteng, lebih cantik, dan lebih lainnya.
Jika Anda butuh suatu perbandingan untuk melihat sejauh mana Anda berkembang, jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Namun, lihat diri Anda sendiri. Bandingkan diri Anda sekarang dengan 1 atau 5 tahun ke belakang, apakah lebih baik? Dengan cara tersebut, Anda bisa menjadi pribadi yang lebih bahagia.


. Berbuat baik pada siapa pun

Pernah mendengar peribahasa "Tangan yang Anda tolong hari ini bisa jadi merupakan tangan yang akan menolong Anda esok hari?"

Namun, jangan jadi pamrih dalam berbuat kebaikan. Berbuat baiklah pada siapa pun dan apapun. Berbuat baik akan melepaskan hormon bernama serotonin dalam otak.
Serotonin adalah suatu hormon yang dapat membuat Anda lebih ceria dan bahagia. Berbuat baik juga akan menjadikan Anda orang yang tidak egois dan secara otomatis akan membuat Anda lebih mudah melihat keindahan hidup.


. Jaga hubungan

Orang-orang yang bahagia cenderung mempunyai hubungan yang erat dan bermakna. Mereka tidak larut dalam kebahagian melalui barang yang gampang hilang. Sebuah studi bahkan menyatakan bahwa tingkat kematian akan meningkat dua kali lipat jika Anda merasa sendirian.

Maka mulai dari sekarang, luangkan waktu untuk sekedar berbicara dengan orang-orang yang Anda anggap penting. Tulis surat elektronik, sms, atau telepon mereka dan perbaiki hubungan yang renggang karena Anda terlalu sibuk.


. Belajar untuk bangkit

Akan ada momen dalam hidup Anda ketika semua berjalan di luar rencana. Anda melakukan yang terbaik namun mendapat hasil terburuk. Sulit memang untuk bangkit segera dari kegagalan.

Namun, Anda harus berstrategi dalam menghadapi naik turun kehidupan. Duduk diam, pikirkan apa yang terjadi, seberapa jauh ini mempengaruhi hidup Anda dan apa yang bisa Anda lakukan untuk bangkit.


. Belajar untuk memaafkan

Benci adalah sifat yang sangat mematikan. Anda juga akan dibutakan untuk melihat hal-hal indah dalam hidup karena sifat benci. Maka belajarlah untuk memaafkan. Memaafkan bukan berarti Anda bisa terus-terusan memaklumi kesalahan orang lain.



. Fokus

Alasan kenapa orang merasa tidak bahagia adalah mereka tidak fokus. Fokus dengan apapun yang Anda lakukan. Dengan begitu Anda akan lebih merasakan nilai manfaat dari apa yang dikerjakan.



. Buat pengalaman baru tiap hari

Sesuatu yang rutin pasti menimbulkan kejenuhan. Sama seperti kolam yang tidak mempunyai irigasi yang baik. Air yang ada di kolam menjadi keruh dan butek. Hal yang sama juga terjadi pada hidup Anda jika tidak diisi dengan pengalaman baru.



. Berdoa

Berdoa tidak harus identik dengan pergi ke tempat ibadah. Berdoa bisa Anda lakukan kapanpun dan dimana pun. Ketika Anda berdoa, maka Anda menyadari ada kekuatan yang lebih besar dari pada Anda di luar sana.

Hal ini akan membuat Anda It enables us to connect to the source terkoneksi dalam hal-hal yang ada di hidup. Pernah membaca The Alchemist? Ketika tokoh merasakan bahwa sekelilingnya mempunyai energi? Hal ini akan menjadikan Anda orang yang lebih berbahagia.



. Tahu kapan berhenti


Hidup terlalu indah dijalani dengan terburu-buru. Namun, dengan adanya teknologi, manusia cenderung menginginkan sesuatu yang instan. Sesuatu dijalani serba terburu-buru. Berhenti sebentar, lihat dan rasakan sekeliling Anda.

Selasa, 27 Mei 2014

SAYURAN UMBI
“ Pasca Panen Kentang”
            Kegiatan pasca panen kentang yang perlu dilakukan supaya diperoleh umbi kentang yang bermutu baik pada dasarnya meliputi pembersihan, sortasi dan grading, penyimpanan dan pengemasan. Ada pun masing-masing pelaksanaan pasca panen tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Pembersihan
            Pembersihan adalah proses menghilangkan kotoran yang menempel pada umbi. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada umbi supaya umbi terlihat menarik.Selama pembersihan , usahakan umbi kentang bebas dari segala kotoran yang menempel pada umbi seperti tanah, sisa tanaman atau akar tanaman dengan cara dipangkas, setelah itu dicuci dengan air bersih secara hati-hati. Untuk mencucinya dapat dilakukan dengan cara memasukkan umbi ke dalam bak air atau disemprot dengan air bersih.Umbi-umbi yang sudah dibersihkan tersebut ditaruh pada terpal atau bahan lain untuk dikeringanginkan. Dalam pengeringan umbi yang baru dicuci itu jangan dikeringkan langsung pada sinar matahari.

b. Sortasi dan Grading
            Adalah proses pemilihan dan pemisahan umbi berdasarkan kualitas dan ukuran. Tujuannya untuk memisahkan umbi yang baik dengan yang jelek untuk memperoleh umbi yang seragam dalam ukuran dan kualitasnya..Caranya, pilih umbi yang sudah dibersihkan itu antara umbi yang baik dan umbi yang jelek berdasarkan : (1) Ada tidaknya cacat pada umbi; (2) Normal tidaknya bentuk dan ukuran umbi; dan (3) Ada tidaknya serangan hama atau penyakit pada umbi. Umbi yang sudah dipilih itu dipilah-pilah lagi berdasarkan kualitas dan ukuran (grading/pengkelasan).Grading/pengkelasan umbi kentang itu digolongkan menjadi : (1) Kelas AL (> 200 gram/umbi); (2) Kelas A (120 - 200 gram/umbi); (3) Kelas B (80 - 120 gram/umbi); dan (4) Kelas C (50 - 80 gram/umbi).

c. Penyimpanan
            Adalah proses menyimpan umbi hasil panen sebelum dipasarkan. Tujuannya untuk menunggu saat pemasaran yang tepat.Cara menyimpannya, umbi kentang dimasukkan ke dalam wadah berupa kotak kayu/krat/keranjang/ waringkemudian wadah itu dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan yang disusun secara rapih. Jika wadah berisi kentang itu disimpan dalam gudang, usahakan gudang penyimpanan mempunyai ventilasi udara yang cukup supaya sirkulasi udara lancar dan kelembabannya sekitar 65 - 75%. Selain itu, gudxang mencapat sinar matahari yang cukup dan keadaannya selalu bersih.

d. Pengemasan
            Pengemasan adalah proses mengemas umbi kentang yang dilakukan dengan menggunakan bahan pengemas sesuai dengan tujuan pasar. Tujuannya, untuk memudahkan distribusi dan melindungi umbi dari kerusakan mekanis dan fisiologis serta memperbaiki penampilan sehingga disukai konsumen.Caranya, umbi yang sudah dipilih sesuai kualitasnya dikemas dalam wadah tertentu, misalnya dengan karung, jaring plastik/waring/poli net yang bersih dan tidak ada sisa bahan lainnya. Wadah berisi kentang itu ujungnya ditutup rapat-rapat, misalnya dijahit dengan jarum karung atau tali plastik.
Jika kentang itu akan langsung dijual ke pasar, kentang dapat dikemas langsung dalam waring dengan kapasitgas ± 40 kg, tetapi apabila akan dijual ke pasar khusus, misalnya Supermarket, kemasannya disesuaikan dengan permintaan Supermarket tersebut.

SAYURAN BUAH
“ Pasca Panen Timun”
            Tujuan kegiatan ini adalah agar mentimun yang telah dipanen terlindungi dari kerusakan fisik dan kebusukan sehingga mentimun sampai ke konsumen tetap baik.
Agar kualitas hasil panen dari budidaya mentimun ini tetap terjaga, perlu dilakukan penanganan pascapanen dengan baik. Diantaranya penyortiran buah mentimun berdasarkan kualitas serta ukuran serta pengepakan/pengemasan yang baik. Selanjutnya buah mentimun siap diangkat untuk dipasarkan.

a.Sortasi. 
            Kegiatan ini dilakukan memisahkan buah yang kurang baik bentuknya atau bengkok, busuk atau rusak dari buah yang baik. Untuk mentimun jepang dilakukan sortasi kualitas untuk sasaran pasaran swalayan, buah mentimum diklasifikasikan sesuai dengan kriteria kualitas yang diminta konsumen.
Kelas A: panjang 16-20cm, diameter 1,5 cm, bentuk buah bagus, lurus bulat dan
mulus.
Kelas B: panjang 20-23cm, diameter 2,0 cm bentuk buah bagus, lurus, bulas dan
Mulus
Kelas C: buah afkiran yang panjangnya lebih dari 23 cm.

b.Kemasan.
            Pengemasan bertujuan untuk memudahkan dalam pengangkutan. Untuk memenuhi permintaan pasar swalayan, mentimun biasanya dikemas menggunakan plastik wrap-ing. Posisi buah diatur sedemikian rupa, baik secara berdiri maupun ditidurkan bersusun agar buah tidak patah pada saat pengangkutan ke pasar. Kritera di luar grade mentimun acar dan mentimun besar termasuk ke grade C dengan spesifikasi bentuk bengkok, kulit kurang mulus, tetapi performa buah segar. Buah yang termasuk grade C bisa langsung dikemas ke dalam karung jaring untuk dijual ke pasar tradisional.
           
c.Pengangkutan.
            Mentimun yang telah dikemas, disusun dalam kendaraan. Sebaiknya mentimun yang telah dipanen langsung diangkut agar diterima oleh konsumen dalam keadaan masih segar. Apabila mentimun di pasarkan untuk jarak jauh diusahakan mentimun terlindung dari sinar matahari dan hujan agar mentimun tetap segar dan tidak busuk.
Klasifikasi buah mentimun dibedakan tiga kelas, yaitu: Khusus untuk mentimun asinan, kriteria panjang buah tidak menjadi patokan, tetapi diameternya tidak lebih dari 4 cm. Meskipun demikian, kriteria kualitas mentimun ini tidak sama di setiap daerah atau pasar, tergantung selera konsumen.
Mentimun yang telah disortasi segera dicuci dalam air mengalir atau air yang disemprotkan hingga bersih. Selesai pencucian langsung ditiriskan di tempat yang kering untuk menghilangkan air yang menempel (Lasarus, Pusluhtan).